Pemakaian internet dan sosial media yang makin intensif sepanjang wabah menggerakkan beberapa penyuplai service tingkatkan peraturan keamanannya. Begitupun dengan Facebook yang memberikan keyakinan pemakainya supaya merasakan aman memakai platformnya.

Facebook sudah bekerja bersama dengan lembaga-lembaga berkaitan di Indonesia untuk meningkatkan agunan keamanan. Mereka ialah Ecpat, Proyek Karma, Into The Light, LBH APIK, Ycab, Cyber Kreativitas, Riliv, dan Sudahdong.

Head of Safety Facebook Asia-Pasific, Amber Hawkes menjelaskan pengin membuat dunia online yang nyaman dan aman. Triknya dengan mendatangkan edukasi ke pemakai berkaitan masalah yang ditemui dan ke siapa pemakai bisa memberikan laporan masalahnya. Hal yang disampaikan bisa berbentuk profile, tanggapan, halaman, status dan lain-lain.

Salah satunya sebagai perhatian Amber ialah kesehatan psikis. Ia mengharap dengan sarana yang didatangkan oleh Facebook di platformnya, pemakai tidak lagi tabu untuk bercerita keadaannya.

“Kami pengin membuat masalah ini supaya tidak jadi tabu, jika ini ialah normal,” kata Amber dalam pertemuan jurnalis

Ia menambah jika di sosial media, hal pemakai terima orang dengan masalah kesehatan psikis, adalah suatu hal yang perlu. Di Indonesia sendiri, Facebook berpartner dengan Into The Light hadapi permasalahan ini.

Tindak Laporan

Berkenaan jumlahnya kasus yang menyalahi ketentuan standarr komune, faksinya kembali memberikan keyakinan pemakai jika tiap laporan akan ditindak.

Banyak pemakai menduga jika laporan pelanggaran akan ditindak oleh Facebook sesudah secara jumlah sudah banyak yang memberikan laporan.

Baca Juga : Inovasi Yang Ada Pada Samsung Galaxy S21 Series 5G

“Tidak, tidak bergantung dalam jumlah yang memberikan laporan. Semua laporan yang masuk berkenaan content yang tidak terlihat oleh team kami, semua akan diolah, merujuk pada peraturan yang telah dibikin,” kata Amber.

Persiapkan sumber pakar tehnologi

Ia memperjelas semua content di Facebook yang berisi perlakuan kekerasan akan ditindak. Perusahaan pastikan semua laporan akan dilakukan tindakan optimal 24 jam pascapelaporan.

Faksinya disokong oleh 35 ribu orang dibagian keamanan dalam cakupan penjuru dunia dan 15 ribu orang yang konsentrasi membahas content.

“Kami memadankan orang yang telah pakar dan kehebatan tehnologi dalam memberi respon ini,” papar Amber tutup pengakuannya.

WhatsApp dan Messenger Mengumpulkan Data Pemakai Paling banyak

WhatsApp dan Facebook Messenger ternyata kumpulkan semakin banyak pemakai daripada program olah pesan yang lain. Misalkan saja dibanding Sinyal dan Telegram. Info ini tersingkap karena cap privacy Apple.

Baik WhatsApp atau Facebook Messenger sama dipunyai oleh Facebook. Info yang dihimpun dimulai dari data pemakaian sampai detil posisi.

Kebalikannya, berdasar cap privacy Apple, Sinyal dikatakan sebagai program paling private sebab tidak kumpulkan data apa saja punya pemakai.

berdasar info detil privacy yang berada di App Store, Facebook Messenger terbanyak kumpulkan data pemakai.

Urutan ke-2 ialah WhatsApp sebagai program olah pesan terbanyak kumpulkan data pemakai.

Ke-2 program ini sama kumpulkan kisah pembelian, info keuangan, detil posisi, contact, nomor telephone, alamat e-mail, sampai data pemakaian.

Parahnya kembali, dalam penyempurnaan peraturan privacy terkini WhatsApp, pemakai yang tidak sepakat akan peraturan baru WhatsApp tidak dapat kembali terhubung service olah pesan itu.

Jika tidak sepakat, salah satu pilihan pemakai ialah meniadakan account WhatsApp mereka.

Laporan Eksploitasi Anak Di Facebook

Kasus pemanfaatan anak masih kerap berlangsung di sosial media. Berkaitan ini, Facebook dan semua basis media sosialnya jamin keamanan content yang termuat didalamnya supaya tidak berisi berkenaan pemanfaatan anak.

Merujuk data yang dikeluarkan Facebook, perusahaan mengakui 99,5 % kasus yang diketemukan berkenaan ekspolitasi anak sudah ditindak oleh perusahaan.

Pada kuartal III 2020, sudah ditindak 12,4 juta kasus di Facebook dan 1 juta content ditindak di Instagram.

Head of Safety Facebook Asia-Pasific, Amber Hawkes menjelaskan peraturan keamanan content berkenaan anak sudah diawasi secara serius. Dia akui sudah lakukan riset secara detail berkaitan ini.